Entah bagaimana ia berawal dan sejak kapan mulanya tak pernah diketahui. Bagi saya yang awam ini tentu hal itu bias kapan saja sepanjang ada kemauan dan ada yang memulai dan biasanya lagi yang mempunyai inisiatiflah yang mau memulainya dan pada akhirnya mendapat dukungan dari yang lain. “Seribu pertama” begitulah awalnya yang kemudian diikuti oleh berbagai reaksi seperti “ok”, “boleh”, “ya” dan sebagainya yang intinya adalah tanda persetujuan. Istilah ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang atau bahkan sudah mempunyai jadwal tersendiri bagi sekelompok orang di tempat-tempat tertentu yang mungkin sudah terbiasa dengan kata tersebut.
Tapi bagi saya yang awam ini, sepasang kata tersebut pertama kali terdengar dan diketahui dari pondok kami tercinta Pondok Herza. Ya… seribu pertama! Ia adalah tanda bahwa suasana perlu dihangatkan atau keadaan perlu diperseru atau mungkin untuk mengisi kekosongan atas luapan kegembiraan. Atau….entahlah…yang pasti begitu kata trersebut dilontarkan maka tak bias digambarkan betapa yang mendengarnya seakan bertambah semangat.
Seribu pertama…diucapkan untuk merangsang anak-anak penghuni untuk menyisihkan selembar duit pecahan seribuan dari pundi-pundi mereka atau istilah lainnya “merelakan” seribu simpanannya bagi yang merasa “terpaksa” untuk dikumpulkan agar dapat dibelikan sekantung besar gorengan berupa pisang goreng, ubi goreng, atau tahu isi. Bagi yang punya kelebihan biasanya menawarkan lebih dan terkadang pula ditambah “sarabba” sejenis minuman khas daerah ini yang terbuat dari jahe untuk menghangatkan badan. Tak ada protes, kritik, keluhan maupun penolakan (apalagi bagi yang suka nebeng, hehehe) sebab ide seribu pertama justru membuat anak-anak lebih bersemangat, utamanya lagi para oportunis,terutama akhi budywansyah. ^_^
bersambung
by: anak pondok HERZA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar